Light and Cube

Beberapa waktu lalu, kami berkunjung ke acara illuminating york, sebuah acara di seputaran Halloween tapi bertemakan light. Kata illuminating memang memiliki beberapa makna dan kalau yang ikuti popular culture, sepertinya bisa paham deh. Anyways, audience makes meaning kan ya!

Nah, ketika singgah di salah satu spot, kalau tidak salah di balai kota nya gitu, terdapat susunan rangka kubus yang diberi lampu neon. Langsung deh, asosiasinya ke pengalaman cube and light!

Light Cube

Salah satu tantangan kreatif dalam beberapa tahun terakhir ini adalah membuat sebuah live performance yang menggambarkan salt and light. Waktu itu di Petra Parade 2013, saya kembali diminta untuk membuat sebuah performance yang menggambarkan salt and light, dan saya yakin sekali dua entitas ini harus direpresentasikan dalam satu ‘benda’. Bersama rekan-rekan se-tim yang baru saja berkeliling 7 kota dan merampungkan memorable dispersal final show, maka keputusan pun jatuh pada membuat kubus yang berisi cahaya. Beruntung, dua orang penasehat dan sekaligus maestro teknik bisa membuat jadi nyata. Dengan bantuan vendor lighting yang juga sangat tertantang, akhirnya cube and light versi kami pun bisa dibuat prototype-nya. Begitu demonstrasi dilakukan dan sukses, maka dimulailah mass-production kubus bercahaya.

Well, that’s not the end of the story, storyline, wardrobe and other props were waiting. Kami sangat terbantu dengan teman-teman apmg yang sangat berdedikasi dan kreatif dalam mempersiapkan pentas. Sehingga, tugas lainnya bisa lebih terbantu. Uniknya, hanya beberapa yang masih aktif sejak 2010, ada yang masih novice waktu itu, dan ada yang bener-bener baru dalam tim ini. Tapi ya tentu saja, mayoritas sudah ditempa selama 35 hari pelaksanaan dare to inspire. Jadi irama kerja sudah terbangun, budaya kerja juga telah terbentuk dan ide-aksi sudah jadi bagian dalam aktivitas tim.

light and cube

Secara pribadi, saya bener-bener terharu dan terkesan dengan jerih payah rekan-rekan yang terlibat. Sequence opening! itulah yang paling menggetarkan. FOH yang biasanya sangat gaduh menjadi senyap, panggilan dan cues yang sering muncul menjadi tersatukan oleh dua suara saja. Fireworks cue person juga standby dengan phone standby. Yang namanya timing accuracy dan one command, bener-bener kami rasakan pada saat itu. Sampai-sampai, ada satu rekan yang bertanya, apakah urutan dan timing sound effect, lighting, video, confetti, dan fireworks itu memakai automasi programming komputer? Saya tidak terlalu ingat jawaban detil saya waktu itu, tapi yang pasti ada perasaan bahagia dan bangga dengan rekan-rekan satu tim.

And that is one of the show of our life: integrate technology and art!

GSA Online Voting: e-democracy

Memang agak terlambat sih, tapi lebih baik saya bisa merasakan bagaimana online voting. Inilah satu praktek demokrasi dalam new media. Saya bisa memahami para calon dan juga memberikan vote berdasarkan user id masing-masing.

Kemarin, saya menerima email dari user account Online Voting di kampus saya. Saya berikan cuplikannya.

Electoral Reform Services is, on behalf of the University of York Graduate Students’ Association, administering the Autumn 2015 Officers Elections. The elections held will include:
Vice President (Student Activities)
Vice President (Community)
GSA Student Councillors, and
Student Trustees
Please follow these instructions to vote:

Whaw! dan Whaw!

Saya beri dua kali whaw karena ternyata bukan hanya mahasiswa S1 yang memiliki organisasi/lembaga kemahasiswaan, tapi juga mahasiswa S2 dan S3 juga memiliki organisasi kemahasiswaan. Dan whaw yang kedua karena sudah mempraktekan e-democracy. Nama organisasinya adalah Graduate Student’s Association yang singkatnya mewadahi kebutuhan dari mahasiswa/i graduate dan pasca. Sudah begitu, dapat gaji lagi. Bukan lumayan lagi, tapi ya per tahun sudah sangat besar itu! (mungkin bisa tambah whaw!)Online Voting

Nah, ternyata dengan adanya interkoneksi dari semua ‘penduduk’ kampus melalui user account masing-masing dan adanya sistem yang bisa diandalkan, maka proses ini bisa sangat menghemat waktu, tenaga dan tentunya dana. Referensi saya sebelumnya ya ketika masih jadi pengurus organisasi kemahasiswaan, tim formatur (atau KPU kampus lah kira-kira) harus dibentuk di level universitas, dan jurusan. Lalu perlu rekrut banyak panitia, cetak kartu suara, dan membangun bilik coblosan. Memang ada seninya tersendiri karena terbangun keakraban dan relasi, namun keakraban dan relasi saat ini sudah ter-redefinisi-kan oleh media baru.

Bagi calon yang akan dipilih, mereka juga tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk cetak poster dan membagi selebaran, tapi dengan membuat file atau e-posternya dan bisa disebarkan ke masing-masing account. Sehingga, polusi informasi pun berpeluang kecil terjadi. Kecepatan penyampaian pesan, interaktifitas dan akurasi pun bisa lebih diandalkan.

Namun, tentu saja faktor sekuritas dan akuntabilitas dari masing-masing akun yang perlu dijaga. Akun harus benar-benar dilindungi dan memilih pun ya harus benar-benar ybs, jangan titip absen :). Tapi kalau direnungkan, ya di voting alami, apakah ada yang mau nitip ktm nya ke teman-teman lain untuk voting? apakah kotak suara bisa dibuka sebelum perhitungan? Hmm kembali lagi, ada sistem yang membuat sekuritas dan akuntabilitas menjadi lebih baik kan.

Media Baru dan Demokrasi, why not? At least, try something in your student organization.

Dare to Inspire

Dare to Inspire adalah sebuah project yang bukan hanya dikhususkan bagi peserta lomba presenter berita televisi ke-12, tapi bagi seluruh team yang terlibat. Ini adalah panggilan untuk mengambil tantangan di masa persiapan project ini.

Tulisan ini adalah salah satu yang tertunda sejak dua tahun lalu (tepatnya, Feb 2013), dimana sebuah video telah dirampungkan, website telah expired, dan LPBT telah berakhir. Seperti dalam TV Series yang berisi belasan episode dalam setiap season yang tiada akhir, namun suatu saat akan ada konklusinya juga. Satu hal pasti adalah dalam series, episode-episode sebelumnya memiliki kontribusi yang signifikan. Sehingga, my gratitude to the contribution of those who were with or without me!

Saya adalah penggemar beberapa series, dan cara mengakhiri sebuah tv series memiliki seni tersendiri. Untuk itu, di dare to inspire kami membuat sebuah dispersal memorable ending. Bagi yang pernah menjadi bagian dari series lpbt, maka akan sangat mudah memahami makna di balik tulisan ini. Tapi bagi yang belum, ada beberapa video yang bisa menjadi referensi. Saya berikan beberapa link dari anggota tim yang masih menampilkannya.

,

Lebih lanjut perjalanan acara dare to inspire bisa dilihat pada link video reporting di 7 kota: Malang, Balikpapan, Makassar, Semarang, Yogyakarta, Denpasar, dan Surabaya. Amazing kan? Bagi kami: unbelievable! Setiap anggota tim punya cerita, setiap peserta juga mempunyai kesan, dan setiap pihak yang mendukung pun memiliki kesan tersendiri. Satu yang terus dipegang adalah sebuah tekad dan mimpi: dare to inspire.

Saya pun mencoba membuka berkas-berkas pada masa itu, dan ternyata ada cuplikan closing speech. Bagi yang mau membaca, silahkan:

Yth. Wakil Rektor Bid Kemahasiswaan, Dekan Fikom, Ketua Prodi, rekan2 dosen; Para perwakilan Sponsor yang hadir; Peserta lpbt dan pendamping; kepsek,guru dan ortu. Dan tentunya panitia yang sangat lelah, tapi terus berkarya!
Akhirnya, 35 hari pelaksanaan lpbt telah kita langkahi. Hanya karena kasih dan anugerah dari TYME yang membuat kita bisa sampai di penghujung acara ini.
Selama 35 hari ini kami telah melaksanakan audisi di 7 kota di Indonesia. Dan 7 kota ini telah membuat peserta lpbt tahun ini menjadi 294 peserta. Setelah melalui babak eliminasi, yang tahun ini sangat kompetitif, maka terpilihlah 8 finalis untuk masing-masing kategori.
Kami juga laporkan bahwa total panitia sebanyak 58 orang masih sehat-sehat saja. Terlihat yang menggunakan baju crew memang terlihat lelah, tegang, tertawa, tersenyum, tapi itulah eskpresi apa adanya kami. Di tengah kesempatan ini, kami memberikan apresiasi kepada orang tua panitia, yang merelakan anak2nya u/ berkarya di LPBT, Lab TV, Ilkom. Terima kasih untuk orang tua yang merelakan anaknya tidur di perjalanan darat menuju semarang, jogja, denpasar dan bahkan, di kampus :).
Tahun ini, lpbt sudah berusia 12 tahun. Sebuah waktu yang panjang. Tidak terasa sudah 12 tahun berturut-turut, lpbt hadir untuk mewadahi atau pun ajang asah bakat presenter berita tv. Angka 12 ini punya makna tersendiri, 12 dalam sepakbola itu adalah tendangan 12 pas (penalty), posisi yg sangat menguntungkan u/ cetak gol (sukses). Dlm konteks keyakinan saya, 12 itu berarti 12 suku, dan 12 murid yesus. Dalam masalah waktu, angka 12 artinya 12 zodiak. 12 adalah jumlah total bulan dalam 1 tahun. Sehingga 12 ini seakan-akan menjadi spesial karena sudah lengkap.
Pada akhirnya, seperti yang telah tertulis di sambutan di buku acara. Kami ibaratnya sedang membuat es teh. Kalau terlalu banyak manis, kurang bagus juga, kalau kebanyakan tehnya, bisa kepahitan, kebanyakn es nya, malah kedingingan. Harus tepat. Bahkan, ketika kami mengaduk, mencampur semua elemen baik peserta, pendamping, panitia, dan sponsor, kita campur jadi satu, tentu akan saling saling bersentuhan, ada gesekan, ada interkasi yg berpeluang u/ ketidaknyamanan. Untuk itu, kami mohon maaf jika ada kesalahan kata dan tindakan. Biarlah nanti semua itu bisa menjadi pecahan2 es yang membuat es teh menjadi semakain segar.
Terima kasih untuk sekolah2 yang telah mengutus siswa/i nya untuk acara ini. Terima kasih untuk kampus2 yang mendukung. Orang tua, guru-guru yang selalu setia mendampingi dalam situasi apa pun. Terima kasih atas kerja keras panitia. Terima kasih atas dukungan dari sponsor-sponsor baik yang tercetak di buku acara, yang sering disebutkan oleh MC dan yang menjadi invisible hand yang tidak mau disebutkan namanya.
Kiranya, kita bisa mememberikan sebuah energi positif bagi sekitar kita dengan inspirasi dari kita. Terima kasih, Tuhan memberkati.

Setelah saya baca lagi sambutan ini, seakan-akan maknanya sudah berbeda, karena waktu telah berganti, tempat sudah berpindah. Seperti kata Walter Benjamin, ada sesuatu yang hilang ketika konteks waktu dan tempatnya berbeda. Tapi ada sebuah reproduksi baru dengan kombinasi teks ini. Dare to Inspire bukan hanya sebuah jargon yang mempersatukan, tapi sebuah tanda untuk dispersal. Sebuah momentum bagi anggota team untuk berpencar dan terus dare to inspire!

Masker N95, Tabung Oksigen dan Sumpah Pemuda di 2015

Setidaknya, Masker N95 dan Tabung Oksigen adalah dua benda yang saat ini menjadi sangat berguna dalam menghadapi kabut asap. Rekan saya di Palangkaraya pun sudah beberapa kali melakukan pengumpulan dan pembagian kepada mahasiswa dan warga sekitar. Dari berbagai foto yang dikirimkan ke saya, udara yang dikenal tidak berwarna seperti mendapat pewarna menjadi kuning dan abu-abu. Setiap orang mengenakan masker dalam aktivitas kesehariannya. Ibarat adegan-adegan film sci-fi yang menunjukan hancurnya bumi dan bernafas menjadi terbatasi.

Pembakaran hutan yang sporadis dan masif telah menimbulkan dampak negatif bagi penduduk kita sendiri dan juga negara tetangga. Terlepas dari usaha pemerintah secara sistemik maupun aksi di lapangan, sampai saat ini masih terjadi kebakaran. Bahkan, salah satu teman saya dari negara tetangga menanyakan: mengapa sudah begini lama, tapi belum teratasi dan mengapa setiap tahun selalu ada seperti ini? Apa mau dikata, fakta nya seperti itu.

Seperti disinyalir beberapa media, kabut asap ini adalah perbuatan beberapa perusahaan yang tidak bertanggung jawab dan sudah diberi sangsi. Ada yang masih dalam proses. Ada juga perusahaan yang dari luar negeri. Di tengah kompleksitas masalah ini, para pemuda melakukan sebuah aksi sederhana: mengumpulkan masker dan tabung oksigen.

Masker berguna untuk melakukan filter terhadap kotoran/debu di udara dan oksigen untuk memberikan sokongan udara yang bersih ke dalam tubuh. Tubuh memerlukan udara yang segar untuk bisa terus melanjutkan kehidupan dengan kualitas hidup yang lebih baik. Setidaknya, manusia bernapas untuk menjalankan fungsi respiratory, metabolisme, dan sirkulasi darah. Apa yang dilakukan para pemuda/i adalah memfilter udara yang kotor dan juga memberikan udara bersih untuk kelangsungan kehidupan.

Sehubungan  dengan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda adalah filter dan sekaligus hembusan nafas kebangsaan bagi keberlangsungan perjuangan saat itu. Di tengah adanya alternatif dan keberagaman yang bisa menuju pada disintegrasi, muncul kongres untuk memilah-milah dan meluruskan perbedaan yang ada. Tidak sampai disitu, memberikan nafas baru bagi kebangsaan. Masker yang dipakai memfilter pada saat itu adalah keberagaman bisa dipersatukan, bukan berjalan sendiri-sendiri. Oksigen saat itu adalah satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa; para pemuda melakukan panggilan persatuan dan menempatkan posisinya sebagai katalis dalam perjuangan.

Saat ini, pemuda/i juga perlu mengigat makna katalis ini, sebagai pihak yang mempercepat perubahan atau pencapaian tujuan. Aktivitas mengumpulkan masker, tabung oksigen dan bahkan ada rekan-rekan di sini yang juga melakukan aksi online merupakan sebuah bagian dari proses percepatan penanganan kabut asap ini. Sehingga, tahun berikutnya kita bisa melakukan filterisasi dan memberikan hembusan napas perubahan lainnya.

Tapi melihat dari tarik menarik struktur-agency, apakah para pemuda/i ini bisa menerobos struktur atau bisa mengetuk pintu hati struktur?

12 Langkah Mengurus Student Visa UK

Setelah mendapat kepastian biaya studi, langsung secepatnya ngurus visa. Jenis visa adalah TIER 4 Student General. Ini adalah pengalaman pribadi saya, sebagai penerima beasiswa BPPLN DIKTI. Saya juga baca-baca dari blog, jadi saatnya berbakti kembali.

Berikut penjelasannya:

  1. Setelah ikut lokakarya persiapan keberangkatan, langsung mengurus guarantee letter (GL) dengan mengisi form yang sesuai di buku panduan. (Buku panduan adalah pegangan yang resmi dari DIKTI). Pengalaman saya, tgl 8 siang email dan tgl 10 pagi terima email berisi file pdf.

  2. Sambil menunggu GL, pastikan semua berkas-berkas untuk VISA disiapkan juga. Akta lahir dan KK beserta sworn translation (asli dan fc), ijazah dan transkrip nilai S1 dan/ atau S2 yang ada versi bahasa inggris (asli dan fc), paspor yang masih berlaku (asli dan fc), pas foto ukuran 45x35mm (cek disini), surat bebas TBC dari RS terpilih (cek disini), CAS (minta dari univ tujuan), form aplikasi online yang telah diprint. Siapkan juga bukti booking tiket pesawat dan alamat tempat tinggal di UK. Untuk beberapa jurusan, membutuhkan ATAS. Dan tentunya Guarantee Letter (asli dan fc). Masukan dalam satu map.

  3. Ada beberapa rekan yang memberikan KTP dan terjemahan (asli dan fc), surat keterangan bekerja (asli dan fc), dan fotokopi rekening bank dengan saldo yang sesuai syarat (link). Tapi, saya tidak menambah tiga dokumen.

  4. Kalau membawa pasangan, seperti saya, maka dokumen pasangan (dependant) juga disiapkan. Akta lahir dan KK beserta terjemahannya. Akta/buku nikah beserta terjemahannya; akta nikah saya bi-lingual jadi tidak perlu translasi. Paspor yang masih berlaku (asli dan fc), pas foto 45x35mm, guarantee letter dari sponsor dan/ atau rekening tabungan dengan jumlah sesuai syarat, surat bebas TBC, dan print form aplikasi online.

  5. Apply visa via online dan membuat janji untuk interview di Jakarta atau Bali. Saya memilih visa application center di Jakarta karena sebelumnya tes kesehatan di RS Premiere Jatinegara, sehingga langsung sekalian ambil hasil tes nya.

  6. Siapkan waktu 1.5-2 jam yang tidak terinterupsi dari segi konsentrasi dan koneksi internet untuk mengisi form nya. Banyak sekali yang harus diisi dari aplikasi visa online. Pastikan semua dokumen sudah siap juga. Dan tentunya kalau ada dependant, ngisi form nya 2 kali alias bisa 4 jam di depan pc/laptop.

  7. Siapkan alat pembayaran dengan kartu, karena sistemnya bayar lunas saat mengisi form online. Apa saja yang dibayar, ada dua: health insurance dan visa fee.

  8. Begitu selesai semuanya. Print aplikasi online tersebut dan juga email tentang appointment.

  9. Datang ke lokasi VFS Global, membawa SEMUA berkas asli dan fotocopy dalam 2 map berbeda serta tepati jadwal. Menurut info, kalau telat maka apply baru lagi dari awal. Di dalam akan ada 2 loket: kelengkapan berkas dan pengambilan data biometrik.

  10. Satu yang penting adalah visa priority service. Aplikasi bisa diproses lebih cepat dari waktu yang ditentukan dan tentunya harus membayar sejumlah uang. Jika mau tracking, bisa apply sms tracking dengan menambah biaya juga. Simpan invoice pembayaran karena akan dipakai untuk mengambil.

  11. Beberapa hari kemudian saya terima sms: The processed visa application for GXXX3XX3XXX was received on D/MM/YYYY. Lalu saya juga terima email yang menginformasikan tentang hal ini. Yang patut diketahui adalah status diterima/tolak tidak diinfokan dan hanya bisa diketaui ketika dokumen sudah di tangan (dalam amplop tertutup). Ada beberapa tulisan yang memprediksi jenis konten email, mana yang diterima mana yang ditolak. Tapi ya namanya prediksi.

  12. Metode ambil bisa dengan via pengiriman atau ambil sendiri atau diwakilkan orang lain dengan membuar surat kuasa. Kalau kami, mengambil sendiri. Perjuangan akhirnya membuahkan hasil, visa UK bisa diperoleh untuk kami.

Perpanjang Paspor, Visa tetap berlaku

Ini adalah pengalaman yang tak terduga setelah dapat visa UK (vignette entry clearance). Ternyata, masa berlaku paspor tinggal 5,5 bulan. Kok bisa dapat visa? Ya, pada waktu apply masih >6bln. Travel agent bilang, yakin mau pesen tiket? Kalau ganti paspor, nanti visanya gimana? Nah, ini dia!

Pilihannya, nekat aja beli tiket berharap luck/mercy atau mengurus paspor baru. Setelah browsing2, nanya ke beberapa tempat, dan akhirnya langsung nanya di Ibu baik hati di Imigrasi Surabaya, langsung hari itu juga perpanjang paspor. Ngisi form dan juga surat meminta kembali paspor yang lama. Supaya nanti waktu di embarkasi bandara, tinggal nunjukin paspor lama dan baru.

Saat itu, saya datang jam 8, dan dapat nomor antri 102. Tambah lagi, pelayanan baru mulai nomor 1. Udah kebayang nih, bakal seharian. Ternyata, jam 11.30 saya dipanggil. Berarti dalam 3,5 jam layani 101 orang, atau sekitar 2 menit/org! Strateginya, di dalam dah banyak loket dan yang ngurus paspor ya udah pinter2 siapin dokumen sih.

Mungkin, saya menjadi pemegang rekor tercepat dari hari apply sampai paspor jadi, di antara rekan-rekan yang saya tau. Dengan menggunakan jalur yang umum saja, plus semua dokumen persyaratan dibawa (KTP, KK, Akta Lahir, Surat Keterangan Kerja, Paspor Lama) dan memberi nomor hp untuk di sms kalau udah jadi. Jangan lupa, bayar biaya buat paspor 48 hal sesuai standard (kalau saya, esok paginya baru bayar). Tanpa ada tambahan biaya apapun.

Tentang foto, upayakan udah tampil yang keren karena foto biometrik nya hanya 1x take. Nggk bisa diulang. Jadi begitu tdt form yg udah ada foto diri sendiri, wah kaget deh. Kok jadi nggk percaya lihat foto diri sendiri yang akan nempel selama 5 tahun.

Menunggu memang menegangkan, tapi begitu sms nya masuk, langsung lega. Ke imigrasi lagi, dan jadi deh paspor baru yang covernya biru tosca. Begitu dapat, langsung hub travel issued tiket ke Jakarta dan Manchester.

…hari keberangkatan…

Sejak check in di counter Emirates, langsung diminta paspor yang lama dan baru sekalian. Done, dapat boarding pass JKT-Dubai, Dubai-Manch. Begitu embarkasi di counter Imigrasi, sama langsung berikan sepasang paspor. Done, dapat stempel SHIA di pasor tosca.

Begitu sampai Dubai, kami langsung nunggu di boarding gate, diperiksa lagi dan oke, naik pesawat. Tiba di Manchester,sama berikan sepasang paspor tersebut lalu siapkan dokumen spt CAS/LoO dan konfirmasi akomodasi. Paspor tosca pun di stempel dan masuklah di tanah united-city.

Lega dan plong! Tidak bermasalah masuk ke Negara Poundsterling. Hal yang sama juga ketika ambil kartu Bio-metric Residence Permit (BRP), semacam ktp buat foreigner di sini. We are officially resident!

Mengapa Media Baru?

“I do not agree with the term of New Media. That means the rest is old.”

Itulah cuplikan pernyataan dari kolega saya ketika kami berdiskusi panjang lebar mengenai media baru. Sepertinya, kehadiran sebuah hal yang diberi predikat baru berimplikasi pada kadaluarsanya hal-hal yang telah ada pada masa sebelumnya. Lebih parah lagi, bukan saja kadaluarsa tetapi akan ditinggalkan. Sehingga, media yang sudah ada akan ditinggalkan dan tidak memiliki penggunanya sama sekali. Nyatanya kondisi tidak se-linear itu, munculnya sebuah media yang baru bukan bermakna mengkadaluarsakan media-media yang telah ada. Media yang ada akan mengalami apa yang disebut Mediamorphosis oleh Roger Fidler. Ambil contoh radio AM, yang semula disangka akan kadaluarsa karena kehadiran radio FM. Sekarang, pada nyatanya Radio AM memiliki pengguna dan audiens yang spesifik, dan bahkan cenderung meningkat.

Media Baru: bukan hanya sekedar teknologi baru.

Jadi, apakah new media itu? Tentunya banyak sekali teknologi-teknologi ataupun istilah-istilah yang dikaitkan dengan new media. Saya pernah mengajukan pertanyaan ini di kelas dan menemukan begitu banyak jawaban: digital media, online media, social media, internet, CMC, online communication, interaktif, digital tv, tablet pc, mobile phone, search engine, wiki, computer games, virtual reality, dan sebagainya. Sehingga, memaknai new media membutuhkan penjelasan yang tidak hanya berorientasi pada teknis teknologinya, tetapi pada sisi sejarah perkembangannya dan juga implikasi sosial budaya.

Untuk memahami new media, maka istilah media bisa menjadi sebuah pintu masuk. Berikut adalah penjelasan yang bisa dibaca lebih lanjut dalam New Media and New Technologies (Lister, Dovey, Giddings, Kelly, & Grant, 2009). Pertama, media dipahami sebagai bentuk plural dari medium. Seiring dengan waktu, istilah media ini seakan-akan sudah menjadi istilah untuk sebuah teknologi komunikasi yaitu: media foto, media film, media radio, media cetak dan media televisi. Dan kita pun tetap menggunakan media sebagai makna jamak: “beritanya sudah tersebar di media”. Media yang dimaksud bisa teknologi televisi, radio, koran, dan berita online. Media juga dipahami sebagai sebuah institusi. Terkadang, muncul juga pemaknaan bahwa media dianggap sebagai sebuah organisasi media. Dengan mengatakan (misalkan) media ATV, berarti menunjuk pada organisasi ATV, yang berisi seperangkat orang-orang yang mengelola sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan bersama. Dan yang terakhir, media juga dipahami sebagai sebuah produk material dan kultural. Media sering disinonimkan dengan koran, buku, novel, DVD, Flashdrive, sinetron, film dokumenter, blog, dan berbagai genre lainnya.

Adanya multi-makna dari kata media itu sendiri memberikan multi-makna pada new media. Sehingga, jangan kaget ketika istilah new media dimaknai berbeda-beda. Seperti dituliskan sebelumnya, istilah new media sangat dikaitkan erat dengan aspek teknologinya saja. Artinya, new media, seperti media, dimaknai sebagi sebuah medium untuk menyampaikan pesan. Padahal kenyataannya, istilah new media tidak hanya bermakna fitur-fitur teknis saja. Hal ini pun diakui oleh Leah Lievrouw dan Sonia Livingstone, editor Handbook of New Media, pada tahun 2006. Sampai pada tulisan ini dibuat, new media masih belum menjadi istilah yang populer sebagai sebuah institusi. Sementara untuk produk material dan kultural, new media tentunya telah memiliki begitu banyak variannya yang terkadang mengkaburkan makna new media itu sendiri. Lalu, apalagi yang membuat istilah new media ini menjadi unik?

Tercatat ada tiga hal utama yang menggambarkan kebaruan dari new media itu sendiri yaitu new epoch, utopia dan angin segar dengan semangat ‘new’, dan istilah yang tergolong inklusif. New epoch bisa dimaknai dengan sebuah babak baru. New media mengindikasikan adanya sebuah babak baru dalam sejarah dan budaya manusia, dimana posisi new media bisa sebagai penyebab maupun yang menerima efek (cause and effect). Dengan berfungsi sebagai sebuah penanda waktu, maka new media menangkap semua bentuk media dan komunikasi yang baru sejak tahun 1980-an. Dimana hal ini bisa dilihat dari uraian oleh Everret Rogers dalam Difussion of Innovations pada tahun 1983 dan Ronald Rice dalam The New Media: Communication, Research and Technology pada tahun 1984. Sehingga sampai saat ini, istilah new media ini melingkupi berbagai aspek teknologi terbaru sejak periode tersebut dan sekaligus berkaitan dengan munculnya perubahan sosial, ekonomi dan budaya sejak tahun 1960an. Sebut saja adanya pergeseran dari modernitas ke postmodernitas, meningkatkan globalisasi, peralihan dari era industrial menuju era informasi, dan meningkatkan desentralisasi geopolitis. Sehingga new media dikatakan sebagai bagian dari sebuah babak baru dalam kehidupan manusia, dan sekali lagi bisa sebagai penyebab ataupun juga yang menerima efek dari perubahan-perubahan yang ada. Dengan kata lain, new media menjadi sebuah bagian dari technoculture. (Lister et al., 2009).

Penambahan predikat ‘new’ atau baru memberikan sebuah angin segar. Baru bisa berarti sebuah kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Bayangan ‘new’ dalam istilah new media atau ‘baru’ dalam media baru seakan-akan memberikan sebuah janji bahwa media baru memiliki teknologi tercanggih, membuat kita tercengang dan berbeda dari media sebelumnya. Anggapan ini tidaklah salah, tetapi angin segar itu tidak hanya pada sisi teknis saja tetapi sebuah utopia ideologi yang lebih progresif. Sebuah contoh sederhana adalah adanya kesempatan bagi setiap individu untuk bisa menjadi seorang mass komunikator melalui media sosial. Adanya media sosial membuka kesempatan untuk setiap individu bisa menjadi pengirim dan sekaligus penerima. Hanya dengan bermodalkan akses ke dunia maya, lalu membuat akun di penyedia jasa media sosial, maka setiap individu sudah memiliki sebuah media yang bersifat one-to-many (Luik, 2011). Media baru memberikan peluang untuk adanya keseimbangan dalam penyampaian informasi oleh berbagai pihak.

Terlepas media sosial digunakan untuk tujuan apa, pada prinsipnya media sosial memberikan sebuah angin segar bahwa setiap atau sekelompok orang memiliki kesempatan untuk memiliki sebuah media. Selain itu, adanya harapan baru juga muncul dari sisi representasi sebuah budaya atau komunitas yang selama ini hanya didominasi oleh taipan-taipan media. Dari sisi global, selama ini budaya non-western diceritakan oleh Western. Dengan adanya new media, maka ada sebuah harapan baru bahwa non-western juga bisa menceritakan mengenai dirinya sendiri. Begitu pula dalam konteks Indonesia, dimana sentralisasi media pada Ibukota seakan-akan menceritakan daerah-daerah non-ibukota dari sudut pandang Ibukota. Muncul juga sebuah praktik baru dalam pendidikan dengan menggabungkan elemen edukasi dan hiburan: edutainment. Begitu juga dengan melihat adanya harapan baru dengan munculnya anak-anak muda yang inovatif dengan new media dan mampu menjadi konglomerat-konglomerat dengan bisnis non-konvensional ini. Sehingga, media baru memberikan sebuah angin segar atau bahkan utopia bahwa kehidupan bermasyarakat dalam segala aspek bisa menjadi semakin lebih baik.

Yang terakhir adalah keunggulan istilah new media dari segi inklusifitas makna. Setiap istilah seperti digital media, online media, interaktif media, multimedia, dan CMC memiliki limitasi hanya pada karakteristik teknis tersebut. Sedangkan new media sudah dimaknai sebagai sebuah istilah yang mampu mencakup seluruh istilah-istilah yang tersebutkan. Apalagi, istilah ini juga mampu mengindikasi perubahan-perubahan makro yang terjadi dan juga harapan mengenai adanya sebuah pergeseran ideologis. Selain itu, istilah new media juga merupakan sebuah portmanteau. Artinya, penggabungan dua kata menjadi sebuah kata, dengan sebuah makna yang baru. Contohnya, education dan entertainment menjadi edutainment, producer dan consumer menjadi prosumer, cybernetic dan organism menjadi cyborg. Edutaintment, prosumer, dan cyborg hadir sebagai sebuah definisi yang baru dan memiliki makna sosial dan budaya yang berbeda, begitu juga memberikan sebuah impian yang berbeda dari istilah-istilah asalnya. Hal yang sama juga terjadi dengan new media, yang diterjemahkan menjadi: media baru. Artinya, tidak hanya literal dimaknai sebagai bentuk media yang baru, tetapi menandakan istilah yang menggabungkan teknologi baru, harapan dan ideologi yang baru, dan sebuah babak baru dalam kehidupan sosial, budaya dan ekonomi.

Vol 2. Edipson

Akhirnya, setelah kembali membaca beberapa buku dan artikel jurnal, tentang rhizomatic-nomadic Thousands Plateau, maka hypertextuality berjalan. Salah satunya adalah blog ini.

Banyak events yang memiliki keterkaitan satu sama lain. Tapi, pemaparan event bisa dilakukan dengan linear kronologis dengan memaparkan kejadian dengan prinsip 5W1H. 28 September malam, kami berangkat dari SHIA menuju Manchester International Airport. Kami awali dengan mengambil titipan bagasi di bandara, lalu menuju counter check in Emirates. Sempat berputar-putar mencari meja check-in, akhirnya kami temukan setelah meja dibuka alias kami kepagian. Saat check in, paspor saya, yang diganti baru karena masa berlaku sisa 5 bulan 2 minggu, tidak memiliki vignette visa entry clearance. Jadi akhirnya diminta paspor lama dan beres! Langsung timbang 30kg dan dapat boarding pass. Satu cerita buat satu event.

Cerita pun bisa mengandalkan benang merah, yang berupa integrasi berbagai events. Sejak terbang dari Surabaya pada 28 September pagi hari, kami menyadari bahwa ini adalah sebuah langkah baru. Boleh dibilang transisi. Transisi menuju hidup yang akan dipenuhi dengan appointment dan kalkulatif. Time is invaluable and resources are limited. Tapi ditengah-tengah itu, kejutan tidak pernah tinggal diam. Jadi, appointment, kalkulatif dan kejutan akan menjadi kolaborasi layaknya trio MSN Barcelona.

Blog ini sempat menjadi penanda masa studi S2 dulu. Jadi, saat ini adalah momentum yang tepat untuk melanjutkan lagi. Volume 1 yang berjalan seiring kuliah di Manila akan dilanjutkan menjadi Volume 2. Konten dominan pasca Manila dan sampai saat ini di York. Tidak lupa, ada 1 tambahan yaitu media baru (new media). It’s not just about the techie things, it’s about life on the grid.

Akhirnya, satu hal utama yang saya pelajari selama ini adalah linearitas sedang ditantang oleh multilinieritas.

Note: nama blog awal: e-adventure; tagline: an alternative way for an adventurer.

facebook dan parpol

Sepertinya agak terlambat sih kalo nulis gini, tapi ya daripada kosong, hehehee…

Beberapa hari lalu sempat ngobrol-ngobrol dengan salah satu teman tentang online, dan salah satunya fb. Menurut info, ternyata fb dipakai juga untuk sarana komunikasi parpol di Indonesia. Sepertinya penggunaan fb ini juga menjadi salah satu pamungkas dari Mr. Obama untuk kampanyenya waktu lalu (http://ezinearticles.com/?Facebook-Assists-Obama-Campaign&id=1677562). Jadi dengan begitu banyaknya pengguna fb di indo (brapa yaa…?), pasti ini jadi potensi yang bagus buat sosialisasi. Murah dan cepat….

Nah, untuk membuktikan, iseng-iseng ak search di fb dengan kata kunci “partai” dan hasilnya ya emang betul sih. Dan fb beri tulisan: Displaying 1-100 out of over 500 results for: partai. Wheeww….tinggi namaannn…. Urutan-urutannya: Partai Patriot, Partai Gerindra, Partai Demokrat, PKS, de el el sampeeeiiii ada partai cinta, partai nyengir, partai golput. Wah wah, kalo yang partai-partai belum terdaftar ini, bisa jadi peluang nih…

Peluang buat partai-partai ala fb ini bisa cari popularitas dulu, lalu nanti daftar untuk ronde berikut, hehehehe.

Blog Politik Indonesia

Selama masa “cuti”, ada satu aktivitas yang kulakukan:

Membuat daftar blog politik indonesia.

Ternyata, tidak mudah untuk mencari blog yang betul-betul fokus kepada politik. Atau, setidaknya mayoritas ke politik. Ada sih blog-blog dari politisi, tapi isinya ya tidak berbeda jauh dengan yang ada di media-media, malah duplikasi dari liputan yang ada di media tentang diri mereka. Kalau begini mah, media boleh new, tapi yang tetap saja cara memakainya…he..he..