Siapakah yang layak jadi “no”?

Notonogoro. Sepanjang yang saya ketahui, itu adalah sebuah penggabungan dari 2 hufuf terakhir para pemimpin bumi persada yang terkategorikan sukses. Notonogoro adalah hasil ramalan dari jayabaya mengenai pemimpin sukses (aktor negara atau satrio piningit) di bangsa ini. Mungkin definisi sukses disini bisa menjadi pro dan kontra, tapi saya mencoba memakai ukuran paling sederhana lama berkuasa deh :)

Semenjak menjadi NKRI, kita sudah memiliki enam orang Presiden. Dimulai dari Soekarno sampai pada SB Yudhoyono. Dari keenam orang itu, tercatat bahwa dua orang telah berkuasa cukup lama yaitu Soekarno dan Soeharto.

chair-indo.jpg

Yang menjadi menarik adalah kedua orang ini telah mengambil jatah “no” dan “to” dalam akronim jayabaya itu. Nah, yang menjadi misteri adalah siapakah yang akan mengambil jatah “no”?

Awalnya ketika presiden ke-enam naik, saya hanya berpikir sejenak bahwa sepertinya dialah yang akan mengambil posisi “no” itu. Artinya, akan sukses juga. Namun seiring waktu, banyak hal yang terjadi dan itu sempat mepengaruhi keyakinan saya.

Yang menarik adalah, hari ini saya membaca ulasan “Buka Kayon Sultan Yogya” di Tempo. Awalnya tentang peluncuran buku oleh Sultan, tapi ketika masuk pada bagian hasil survey untuk calon presiden. Saya pun langsung teringat akan “no” yang ketiga. Buwono (walaupun ana nama asli beliau) adalah nama terakhirnya dan kebetulan cocok :)

Namun itu kan ramalan, yang secara ilmiah pasti akan banyak dipertanyakan. Apalagi di jaman kemajuan teknologi dan budaya yang begitu pesat ini. Tapi jika sejenak saya lihat hasil survey itu, saya kutip dari Tempo: Januari lalu, ia berada di urutan ketiga, di bawah Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri… Menurut Lembaga Survei Indonesia, angka tujuh persen bagi Sultan kurang-lebih sama dengan popularitas Yudhoyono setahun sebelum pemilihan presiden 2004, peluang itu juga ada.

Jadi, siapakah yang layak? Tentulah bukan siapa-siapa yang memutuskan, tapi ya diri kita sendiri dengan pertimbangan dan pemahaman yang baik akan tawaran-tawaran itu.

7 Responses to “Siapakah yang layak jadi “no”?”


  1. 1 Tigis March 24, 2008 at 2:45 pm

    Yang paling cocok ya Edipsono. Maksa yah… :)

    asik nih posting-nya. Jadi selama ini Habibe, Gusdur, Mega, dan SBY, ga dimasukkin ke situ ya. Brarti parpol kudu mulai nyari capres yg berakhiran No smua donk. Sayang Kasino dan Dono uda pada ngga ada… :)

  2. 2 mikearmand March 24, 2008 at 3:46 pm

    Bukannya Yudhoyono juga berakhiran no ?

    Anyway, jadi mikir nih emang ada orang yang namanya berakhiran go jika sudah saatnya ?

  3. 3 LiSan Skywalker April 9, 2008 at 4:32 am

    Nanti aku jadi LiSaNo ^o^

  4. 4 Condylar June 19, 2008 at 4:09 pm

    Somehow i missed the point. Probably lost in translation :) Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Condylar!!!

  5. 5 sonix August 26, 2008 at 10:01 am

    halo pak, as we discussed by chat :) actually setahu aku ya, kalo salah jg ya maap :p mitos itu memang ada, ditulis dalam kitab ramalan besar jawa ‘JAYABAYA’ but the spelling in javanese would be NATA NEGARA.. yang berarti menata negara.. tapi pada kelanjutannya agak salah kaprah dan berubah menjadi NOTO NEGORO dan memang pada awalnya mitos ini, dikatakan akhiran nama dari presiden indonesia, tapi sejak gantinya soeharto, pengartiannya mulai meluas, entah knp (mungkin daripada dibilang salah ramalan y), terkadang agak dipaksakan:

    no: soekarNO
    to: soeharTO
    ne: bacharudiN jusuf habibie (dalam huruf jawa, kita tidak bisa nulis N, bisanya NA terus dikasi tanda mati)
    go: abdurrahman wahid /Gus dur (ini mulai nyleneh, saya akui)
    ro: megawati soekarno putRA
    sudah habis singkatannya, lha trs SBY?

    nah, yg lebih dicari dalam mitos itu adalah, presiden ketujuh akan membawa indonesia pada kemajuan gemah ripah loh jinawi, atau yg biasa kita nantikan satrio piningit/ratu adil. lha karena singkatannya sudah habis, lha trs siapa ramalannya?

    pengertiannya jadi lebih luas lg, as this blogs writer wrote, urutan presiden besar indonesia.. nah kalo seperti itu, saya setuju, bahwa baru soekarno dan soeharto yang dianggap besar (baik dianggap bagus atau buruk)

    so, the next big leader of indonesia, would be using NE or NA as their affix of name (eh bener ya, akhiran itu bahasa inggrisnya affix?)

    tp pedoman akhiran nama itu jg berhubungan dengan ramalan lain JAYABAYA, as i said the 7th president will bring prosperity.. so sapa yg tertarik ne?

  6. 6 sonix August 27, 2008 at 3:28 am

    tambahan comment:
    note: JOYOBOYO adalah ramalan terbesar di kalangan jawa, dan sudah banyak terbukti sampai dengan sekarang. ketenarannya bisa disamakan dengan nostradamus di seluruh dunia. persamaan dari mereka berdua, nobodys yet know the meaning sampe dah kejadian beneran. salah satu ramalan yg juga terkenal lainnya dalam kitab JOYOBOYO adalah bahwa bangsa kita akan merdeka setelah dijajah bangsa ‘kate’ (ayam kate) seumur jagung (3,5 bulan), dan terbukti dengan penjajahan jepang (waktu itu masih kecil2 orangnya/kayak ayam kate) selama 3,5 tahun.

    tengkyu.

  7. 7 ario saja August 28, 2008 at 6:06 am

    klo ario dipoyono…. he..he..h.e… mungkin gak yah ??


Leave a Reply




a