Apakah cara ‘Singa Tua’ itu masih dibutuhkan untuk menghadapi brutalitas ini?

Itulah sebuah kesan yang muncul ketika melihat seri ke empat dari petualangan seorang veteran perang dari Amerika Serikat. Kenapa brutalitas yang dipakai? JIka Anda pernah memainkan sebuah fighting-game versi Sega: Mortal Kombat, tentu masih ingat di bagian akhir ketika lawan tarung sudah lemah (menunggu dieksekusi). Jika Anda berhasil membuat lawan Anda itu game-over dengan mutilasi, membakar, bahkan memakan, Anda mendapatkan: Brutality. Apakah terlalu berlebihan dengan film yang memakai karakter asli manusia? Melihat preferensi tehkik perfilman yang dipakai, itulah impresi yang muncul.
Film ini tentu tidak asing bagi para penikmat film action, begitu juga dengan alur ceritanya. John Rambo, tokoh utama, memutuskan untuk mengasingkan diri di Thailand setelah melewati begitu banyak masa sulit akibat perang (bisa mengacu pada serial-serial sebelumnya). Ternyata masa sulit itu kembali setelah sekelompok orang dari Amerika (mengatasnamakan Gereja) meminta bantuannya untuk mengantarkan mereka masuk ke Burma. Rencana tidak berjalan mulus, sekelompok orang itu diculik oleh pasukan bersenjata yang keji. Pembunuh bayaran yang disewa pun terlihat kewalahan untuk memberikan bantuan. Akhirnya, John beraksi lagi.
Apakah brutalitas itu masih ada di masa kini? Melihat presentasi-presentasi yang ditunjukkan dalam film ini, tentulah disimpulkan bahwa lokasi kejadian ini di Burma. Begitu mendengar Burma, otak kita langsung mengaitkan dengan peristiwa yang kita ketahui melalui pemberitaan di media-media. Dan tentulah pembuat film ini tidak sembarangan memasukkan unsur brutalitas seperti itu.
Paling minimal respon ngeri, kejam, sadis, dan kok tega? akan muncul begitu melihat film ini. Tidak saja itu, menutup mata, detak jantung meninggi, bahkan menghentikan melihat film ini bisa menjadi pilihan respon yang diambil. Akan tetapi, apakah presentasi brutalitas itu hanya berhenti sampai respon sesaat itu? Setelah melihat secara utuh ataupun tidak utuh, apakah penilaian Anda terhadap kondisi Burma secara khusus pada orang-orang di sana?
Setidaknya, akan muncul kesan negatif bahwa kondisi di sana tidak kondusif sehingga dibutuhkan sebuah intervensi untuk membuat aman. Dua tindakan umum muncul dalam film ini: mencoba dengan cara yang halus ala Michael, Sarah dkk, atau dengan ala ‘Singa Tua’ yang masih bertaring dan lincah. Dua tindakan ini coba dikombinasikan dalam film ini dan hasilnya ‘Singa Tua’ masih diperlukan. Bahkan dengan memunculkan singa-singa ‘muda’, ternyata mereka masih butuh pengalaman, keberanian, dan keahlian dari John.
Cara-cara yang menjadi khas ‘Singa Tua’, yang ditentang saat ini, masih dibutuhkan jika terjadi kondisi yang seperti di film ini. Bahkan, ‘Singa Tua’ harus turun tangan untuk membimbing singa-singa muda dan mengundang singa-singa lokal untuk mengakhiri brutalitas ini. Jika benar kondisi di Burma seperti itu dan cara-cara Sarah dkk tidak ampuh, maka cara apakah dan siapakah yang layak untuk mengintervensi?
Tentulah telah muncul pro dan kontra terhadap film ini, namun pada titik ini penulis melakukan sebuah pemaparan terhadap pesan yang ingin disampaikan melalui karya media ini.
halo, lam kenal ya
btw, gue termasuk yg bela2xin nonton Rambo-4 di bioskop. Asik bisa nostalgia lagi ama hero jadul. Mskpun skrg ceritanya uda dibikin lebih manusiawi ketimbang at least Rambo-3. Tp tetep aja, adegan perangnya msh keren-an Rambo-3. Mskpun overall First Blood msh yg terbaik
Yup…apalagi adegan pakai anak panah n busur hancurin helikopter
Cerita kaya gini too predictable