Kasak-kusuk Golden Compass

Satu lagi film terbaru berdasarkan trilogy buku yang katanya bernada atheis. Film yang iputarkan serempak pada 6 Desember 2007 telah berhasil menarik perhatian banyak orang, juga saya. Bahkan ada teman saya menyarankan kalo mau menonton itu, kita harus paham betul tentang doktrin agama kita. Saya membaca satu artikel di internet, para pengkritik berharap agar buku itu tidak dihadiahkan kepada anak-anak dan film ini di boikot saja. Akhirnya saya menonton film ini pada tanggal 9 Januari 2008.

Golden Compass, saya singkat GC, itu sendiri adalah sebuah benda yang menjadi perebutan oleh dua pihak utama dalam film itu. Pihak pertama adalah Magisterium yang pada film ini berada pada posisi antagonis. Sementara pihak yang kedua adalah para “pemikir bebas” yang ingin mengeksplorasi tentang kebenaran. GC ini diperebutkan karena kemampuannya untuk menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh pemakainya.

Manusia yang ada dalam film ini selalu ditemani oleh seorang binatang. Binatang ini disebut “dæmon”, saya artikan setan, tempat tinggal dari jiwa manusia tersebut. Jadi, ini juga bertentangan dengan ajaran bahwa jiwa manusia ada di dalam manusia itu sendiri.

 

Yang berikut Magisterium, sebuah organisasi yang mau menguasai dunia dan “memaksakan” ajaran religinya kepada manusia. Dari cara berpakaian, aksesoris yang digunakan, cara pengajaran doktrinnya, dan posisinya dalam masyarakat menggambarkan orang-orang religius. Dari film ini cenderung Magisterium di kaitkan kepada para pemimpin agama Kristen, bisa juga ke ajaran agama yang lain. Ini adalah impresi yang muncul dari film itu. Dengan demikian kenapa film ini mendapat protes, karena menampilkan sosok Magisterium sebagai antagonis yang jahat, kejam, otoriter, dan kasarnya tirani.

Hubungan yang sederhana seperti ini. Sementara Magisterium menjalankan dan menyebarkan ajarannya, mereka sendiri juga ragu akan ajaran mereka itu. Ketika para pemikir menyampaikan sebuah ide ilmiah yang bertentangan dengan ajaran mereka, terjadilah upaya-upaya untuk melakukan balasan terhadap ide itu. Mereka menghalalkan segala cara untuk mempertahankan dan bahkan memperluas dominasinya. Selain dengan cara ilmiah yang tidak etis (eksperimen terhadap anak-anak), GC merupakan sebuah alat yang sangat penting dan strategis untuk mereka sehingga perburuan untuk itu pun tidak terelakkan. Artinya film ini merupakan sebuah film untuk memberikan pesan melawan dominasi-dominasi yang ada, yang khususnya dominasi otritarian yang takut posisinya terancam.

Dampaknya terhadap anak-anak? Bagi saya semua film itu tentu memiliki dampak terhadap anak-anak. Khusus untuk film ini, secara fisik tidak menunjukan berbahaya. Yang “baik” ditunjukkan dengan grafis yang bersahabat dan lucu, begitu juga sebaliknya. Secara non-fisik, seperti yang saya tulis di atas itu bisa berpotensi mempengaruhi pola berpikir. Dengan demikian, kata orang kalau dilarang bakal tambah disenangi. Lebih baik dilawan saja dan memberikan pengertian, walaupun akan memberikan dampak financial bagi pembuat sehingga trilogy ini tetap jalan.

3 Responses to “Kasak-kusuk Golden Compass”


  1. 1 dany January 11, 2008 at 12:56 pm

    Golden Compass…jika menurut orang-orang yang berkaitan dengan ajaran agama tertentu mereka tentu akan menafsirkannya secara berbeda. Entah apakah itu merupakan bentuk paham tertentu. tetapi masyarakat pada umumnya, khususnya anak2 yg menjadi target film tsb tentu tidak akan berpikir sejauh itu, mereka haya akan berpikir bahwa film tersebut merupakan film sejenis harry potter, narnia,dsb.

  2. 2 evelyn pratiwi yusuf January 11, 2008 at 4:53 pm

    Well sebenernya semua film mempunyai sisi buruk dan baiknya. Tidak hanya film GC yang mendapat kritikan dan dikaitkan oleh agama dan dibilang ini Atheis. Harry Potter juga mengalami hal yang sama yang katanya bisa merubah pola pikir seseorang akan suatu agama.
    Aku rasa film ini yang sebenernya ditujukan untuk tontonan keluarga atau lebih tepatnya anak-anak nggak akan berpengaruh terhadap kepercayaan mereka terhadap agama. Mereka hanya anak-anak, bukan orang dewasa yang mampu melihat semuanya dari sudut pandang yang berbeda. Pemikiran anak2 selalu simple,so buat apa takut kalau mereka menonton film ini?
    Aku sudah nonton filmnya, sama seperti film dongeng lainnya, Stardust, Narnia and many more, aku nggak merasa film ini merubah pola pikirku selama ini, dan aku nggak merasa GC adalah film atheis. Kalau tuduhan itu karena kostum dan segala sebutan daeomn, aku kira nggak masuk akal ya. Disanalah film, sang sutradara kan hanya ingin menghidupkan apa yang ada di novel menjadi sesuatu yang menarik untuk dilihat.
    Well atheis atau tidak tergantung orang yang melihatnya bukan?

  3. 3 riawibisono January 13, 2008 at 4:11 pm

    itu semua tergantung anaknya, cerdas apa gak. aku pas kecil juga nonton dan baca dongeng tapi ya tau kalo itu boongan. tapi, berhubung tidak semua anak bisa membedakan boong atau tidak, bimbingan ortu sangat penting. lihat saja kasus di Indonesia baru2 ini ada anak yang diduga bunuh diri akibat meniru adegan film Naruto…. ga habis pikir deh kenapa kasus seperti ini terulang lagi….


Leave a Reply




a